
Bukit Harapan I, 7 November 2025 – Di sebuah sudut Perkebunan Sawit Bukit Harapan I, Torganda, Sumatera Utara, tepat di dekat Pabrik Kelapa Sawit Bukit Harapan I, ada sebuah kawasan, dimana banyak pekerja dan keluarga duduk bersila di rerumputan, sepeda motor dan mobil berjajar, sementara tangan-tangan sibuk memegang ponsel, berkomunikasi dengan kerabat, teman, dan keluarga jauh.
Bukan karena ada pasar, bukan karena ada kedai, tapi karena satu alasan sederhana, di situlah sinyal ponsel muncul paling kuat.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan jauhnya akses ke pasar atau kantin, kawasan kecil itu menjadi simbol kebutuhan dasar warga, kebutuhan untuk tetap terhubung, bersosialisasi, dan menemukan kenyamanan di sela hidup di kebun.
Membangun Ruang Berkumpul yang Layak
Dari pengalaman penugasan di sejumlah pelosok Tanah Air, jauh sebelum ditempatkan sebagai Kepala Regional Sumatera 1 PT Agrinas Palma Nusantara (Persero), Mayjen TNI Purn. Nunu Nugraha merasakan pentingnya akses komunikasi bagi seluruh warga. Di beberapa tempat, beliau menamakan tempat berkumpul untuk mendapatkan sinyal bertelepon itu sebagai “Kantin Bajak Laut”

“Saya ingin menyediakan tempat berkumpul yang nyaman untuk silaturahmi, koordinasi, dan tentu saja ada wifi atau jaringan telepon agar mereka bisa berkomunikasi dengan rekan dan keluarga,” kata Mayjen TNI Purn. Nunu Nugraha. Dia pun mengenang saat melihat anak buahnya menggantungkan telepon di puncak pohon tertinggi, hanya untuk mendapatkan sinyal telepon agar pesan mereka terkirim.
Karenanya, dengan kondisi hampir serupa, beliau pun memerintahkan Manager Rogan Napitupulu dan Christian Simanungkalit untuk menjadi titik dimana sinyal telepon paling kuat, di kawasan perkebunan yang dikelola PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) di Bukit Harapan I. Akhirnya, ditemukanlah titik yang kini menjadi lokasi Kantin Rohatta “Bajak Laut”.
Walau sempat kebingungan dengan istilah “kantin bajak laut”. Namun, justru nama itulah yang kemudian menjadi identitas, daya tarik, dan roh kebersamaan di Bukit Harapan I.
Tak Sekadar Tempat Mencari Sinyal

Titik itu tak sekadar tempat mencari sinyal, melainkan ruang hidup warga. Orang datang bukan hanya untuk telepon, tetapi untuk bercengkerama, bertukar kabar, dan melepas penat. Lokasi tersebut kini menjadi area, sebuah ruang berkumpul yang tertata, rapi, teduh, dan memberi manfaat ekonomi bagi warga kebun.
Maknanya pun menjadi lebih dalam dari sekadar memperbaiki tempat duduk. Warga kebun selama ini menghadapi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan harian. Akses belanja sembako, sayur, dan kebutuhan pokok terbilang terbatas dan jauh. Harga pun seringkali tidak bersahabat.
Tak hanya menjadi pasar kecil, rest area, sekaligus tempat makan, lokasi tersebut dikenal dengan nama Kantin Rohatta “Bajak Laut”.

Para ibu-ibu, istri pegawai PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) pun giat mengelola kantin yang buka sejak pagi pukul 8, hingga malam, sekitar pukul 8 juga.
“Meski kantin ini cukup sederhana makanannya, namun tempatnya sangat teduh, banyak orang berdatangan. Ada yang memanfaatkannya sambil bekerja, dan pesan makanan kecil,” kata Esther Sinambela, salah seorang penggiat kantin.
Selain dapat bekerja dengan menggunakan laptop berkat adanya sinyal kuat di pedalaman sawit ini, Kantin Rohatta “Bajak Laut” juga menjadi tempat persaudaraan bagi mereka yang datang dari dalam kebun.

“Teman-teman yang kurang mampu pun merasa senang dengan hadirnya kantin ini. Kami mendekat, merangkul, dan berbagi cerita sambil diterpa angin semilir yang teduh, dengan pemandangan hamparan sawit hijau di kejauhan,” kata Esther.
Menjelang sore tampak pula pemandangan matahari terbenam. “Sunset di sini keindahannya tak kalah dengan pantai di Bali,” kata Esther sambil tertawa.
Esther mengungkapkan selain Kantin Rohatta “Bajak Laut”, ada beberapa lagi kawasan serupa yang dibangun, sebagai titik untuk mendapatkan sinyal telekomunikasi, sekaligus menjadi tempat makan dan warung kebutuhan sehari-hari.
Bermanfaat Bagi Banyak Orang
Banyak guru-guru dari sekolah setempat, seperti TK Harapan Kita dan SD Swasta 101840 Kita Yadika, serta SMP Swasta Kita Membangun Bukit Harapan I, yang memanfaatkan kantin Rohatta “Bajak Laut” sebagai tempat zoom, karena sinyal yang bagus.

“Kami mengadakan zoom di sini, untuk ke Medan, juga zoom pelatihan guru-guru,” kata Reinisma Lumbanraja,S.Pd, Kepala Sekolah SD Swasta 101840 Kita Yadika, yang juga tercatat sebagai karyawan Agrinas Palma Nusantara. Sebagian guru sekolah-sekolah tersebut memang tercatat sebagai pegawai Agrinas Palma Nusantara, dan masih banyak juga yang tercatat sebagai guru honorer.
Kantin tersebut juga menjadi pusat kegiatan para istri pegawai Agrinas Palma Nusantara. Ada yang memanfaatkan pelepah sawit yang sudah tua untuk menjadi kerajinan tangan, seperti piring-piring dari lidi sawit yang dijalin, juga sapu lidi. Seperti yang dilakukan ibu Lisbest Sitorus, bersama ibu-ibu yang lain bisa menghasilkan sekitar 50 buah piring lidi sawit setiap harinya.

Para ibu juga memanfaatkan lahan-lahan yang kosong untuk menanam ubi jalar, yang dibuat keripik, pepaya, dan lain-lain yang tumbuh dengan suburnya.
Beberapa aspek yang menjadi perhatian antara lain, menu bergizi dan variatif, disesuaikan dengan kebutuhan energi pekerja kebun. Bahan masak segar dan berkualitas, agar warga tidak hanya kenyang tetapi juga sehat. Sistem pembayaran fleksibel: tunai dan ke depan dipertimbangkan pembayaran non-tunai atau kartu makan.
Kegiatan promosi dan event komunitas, agar kantin hidup tidak hanya sebagai tempat makan, tetapi juga pusat interaksi sosial. Pengawasan kualitas dan kebersihan, supaya standar makanan dan pelayanan tetap terjaga. Harapannya, Kantin Rohatta “Bajak Laut” menjadi tempat yang bukan hanya memuaskan selera, tetapi juga menyatukan orang.

Bukan Sekadar Kantin, Melainkan Simbol Harapan
Kantin Rohatta “Bajak Laut” lahir dari mimpi sederhana namun membawa makna besar: menghadirkan kesejahteraan kecil yang terasa nyata di tengah perkebunan.
Ia adalah simbol tiga hal. Pertama, kebutuhan yang dijawab, inisiatif yang diwujudkan, dan kebersamaan yang diperkuat.
Jika tahap pembangunan dan pengelolaan ke depan berjalan baik, kantin ini bukan hanya akan menjadi tempat makan dan belanja, tetapi juga pusat kehidupan sosial warga kebun Bukit Harapan I. Karena pada akhirnya, fasilitas yang baik bukan hanya soal bangunan, tetapi tentang rasa memiliki dan kebahagiaan bersama yang tumbuh di dalamnya. ***
Divisi Komunikasi dan Hubungan Kelembagaan
Chief Editor: Renaldi Zein, MSi
Penulis: Natalia Santi
Foto-foto: Esther Sinambela










