Agrinas Palma Nusantara Dorong Kebangkitan Industri Kerakyatan di Tasikmalaya

Tasikmalaya, 18 November 2025 – Dari sebuah bangunan tempat berkumpulnya perajin di Kampung Karanglaya, suara kretek-kretek alat tenun mendong kembali terdengar lebih nyaring. Di tempat inilah, tradisi menenun yang diwariskan sejak 1940 terus bertahan, meski perlahan tergeser arus zaman. Namun, pada Senin siang, 17 November 2025, harapan itu seolah ditenun kembali.

PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) menyerahkan tiga unit alat tenun mendong modern kepada para perajin Desa Kamulyan, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya. Bantuan yang disalurkan melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) itu bukan sekadar pengganti alat lama yang mulai rapuh, melainkan pijakan baru bagi ekonomi rakyat yang bertumpu pada kearifan lokal.

Warisan Panjang dari Sebuah Desa Tenun

Desa Kamulyan bukan nama asing dalam peta kerajinan mendong Tasikmalaya. Hampir setiap rumah di desa itu masih menyimpan alat tenun tradisional; sebagian digunakan, sebagian lagi hanya menjadi saksi bisu kejayaan masa lampau.

“Sejak dulu Kamulyan dikenal sebagai sentra mendong. Budayanya kuat, produktivitasnya masih terjaga,” tutur General Manager TJSL & ESG PT Agrinas Palma Nusantara (Persero), Mochammad Gatut Mukti Wirawan, saat menyerahkan bantuan.

Gatut menegaskan, komitmen perusahaan bukan berhenti pada penyerahan alat. Agrinas Palma Nusantara, ujarnya, melihat mendong bukan semata-mata produk kerajinan, melainkan industri kreatif berbasis budaya yang berpeluang tumbuh besar jika ditopang teknologi, pendampingan produksi, hingga dukungan pemasaran.

“Yang terpenting bukan jumlah alatnya, tetapi bagaimana ini menumbuhkan industri baru yang benar-benar dikelola masyarakat,” kata Gatut.

Dari Tikar Tradisional ke Produk Bernilai Tinggi

Mendong selama ini identik dengan tikar. Namun APN mendorong hilirisasi yang lebih luas: tas, topi, pernak-pernik rumah tangga, hingga produk gaya hidup, yang nilai jualnya jauh lebih tinggi.
Potensi itu bukan mustahil diwujudkan. Kamulyan memiliki rantai hulu–hilir yang lengkap: bahan baku tersedia, budaya kerja kuat, dan komunitas perajin yang masih bertahan.

“Harapan kami, tiga alat tenun ini memicu lahirnya kreasi baru yang lebih kompetitif,” ujar Gatut. “Kami akan hadirkan ahli kerajinan dan local heroes untuk mendampingi.”

Selain peningkatan kapasitas produksi, desa ini juga diproyeksikan sebagai ruang edukasi. Para pelajar dan wisatawan dapat belajar langsung melihat proses menenun, dari batang mendong hingga menjadi produk siap pakai.

Suara Perajin: Antara Syukur dan Tantangan Pasar

Nana Mulyana, Koordinator UMKM Mendong Kamulyan, menjadi salah satu yang paling merasakan dampaknya. Ia tahu betul bagaimana alat tenun yang menua dapat memperlambat produksi.

“Kami dituntut cepat, tapi alatnya sering macet. Bantuan ini sangat kami nanti,” kata Nana. Namun ia mengakui bahwa hambatan terbesar bukan hanya soal alat, tetapi pemasaran.

“Kami bisa membuat banyak produk. Tapi kalau marketing tersendat, perkembangan usaha ikut tertahan,” ucapnya.

Kata-kata Nana menggambarkan dilema banyak UMKM: kreativitas melimpah, pasar sempit.

Desa Menata Arah Baru

Kunjungan APN ke Kamulyan tak sekadar seremoni. Diskusi digelar bersama pemerintah desa, membahas tata kelola desa wisata, mekanisme kunjungan edukasi, hingga rencana penguatan infrastruktur.

Kepala Desa Kamulyan, Jajang Kasmaran, melihat langkah ini sebagai kolaborasi strategis untuk memulihkan ekonomi desa.

“Mendong ini bukan sekadar kerajinan, tetapi identitas kami. Kolaborasi dengan APN memberi manfaat luas, menjaga warisan budaya sambil membuka mata pencaharian baru,” ujarnya.

Menjaga Warisan, Menggerakkan Ekonomi

Di tengah perubahan lanskap ekonomi pedesaan, mendong menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. APN, lewat bantuan alat tenun dan pendampingan lanjutan, mencoba memastikan tradisi itu bukan hanya bertahan, tetapi tumbuh menjadi kekuatan ekonomi rakyat.

Di sebuah sudut desa, alat tenun mulai digerakkan. Serat mendong saling mengikat, menguatkan satu sama lain. Seperti harapan masyarakat Kamulyan: ditenun bersama, menjadi masa depan yang lebih cerah. *

Divisi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dan ESG PT Agrinas Palma Nusantara (Persero)