Meredam Gegar Budaya di Dunia Kerja Persawitan antara Kebun dan Kantor

Kolonel Inf (Purn) Jonnie Koentara, Manager Hubungan Industrial, Direktorat SDM dan Umum, PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) (Foto: Dede Kurniawan/Divkom)

Jakarta, 22 November 2025 – Di ruangan Divisi Komunikasi dan Hubungan Kelembagaan, Kantor pusat PT Agrinas Palma Nusantara (Persero), Kolonel Inf (Purn) Jonnie Koentara, mengenakan kemeja batik, tampak santai dan rileks. Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran tahun 1987 itu menghabiskan puluhan tahun kariernya di dunia militer, menangani seleksi prajurit, klasifikasi jabatan, hingga persoalan psikologi militer.

Delapan tahun setelah pensiun, ia kembali dipanggil. Kali ini bukan untuk operasi militer atau penugasan negara, melainkan untuk dunia baru yang sama sekali berbeda: industri sawit.

“Awalnya saya hanya diminta menjadi pemateri dalam pembekalan gelombang pertama di Cilodong,” kenang penggemar musik rock sejak kelas 4 SD tersebut mengaku. Pembekalan pegawai adalah program pelatihan PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) kepada karyawan-karyawan baru.

Sejak Agustus tahun ini, ia resmi bergabung sebagai Manager Hubungan Industrial, menangani perselisihan antara perusahaan dan karyawan. Pengalaman panjangnya di psikologi militer justru membuatnya menjadi salah satu orang yang paling memahami satu tantangan laten di Agrinas Palma Nusantara: gegar budaya, atau culture shock.

Ketika Dunia Berubah Terlalu Cepat

Menurut Pak Jonnie, gegar budaya biasanya diawali perasaan antusias luar biasa, fase yang ia sebut honeymoon atau “bulan madu”.

“Banyak yang masuk dengan rasa bangga. Dapat kerja di BUMN besar, mengelola sawit jutaan hektar. Cerita ke keluarga, ke kampung. Itu euforia,” ujarnya.

Namun masa bulan madu itu tak berlangsung lama.

Begitu turun ke lapangan, banyak realitas yang jauh dari ekspektasi. Fasilitas terbatas. Lokasi jauh. Makan pun tidak selalu mudah. Mereka yang pernah dijanjikan jabatan tertentu menemukan bahwa tugas di kebun tak selalu seindah harapan.

“Kaget. Frustrasi. Itu fase kedua,” kata Pak Jonnie.

Di fase inilah, gejala culture shock muncul. Antara lain, gejala emosional seperti mudah marah, tersinggung, kecewa, merasa ingin pulang. Gejala fisik misalnya sakit kepala, perut tidak nyaman, kehilangan selera makan, hingga GERD. Gejala kognitif seperti sulit konsentrasi, mudah lupa.

Menemukan Ritme Baru

Jika berhasil melewati fase frustrasi, seseorang akan masuk fase ketiga: penyesuaian diri. Di sini, hal-hal kecil mulai berubah. Hingga akhirnya tibalah fase keempat: adaptasi penuh.

“Sudah mulai merasa bagian dari Agrinas Palma Nusantara. Sudah terlibat, sudah bangga,” tuturnya.

Komposisi unik Agrinas Palma Nusantara, purnawirawan TNI, fresh graduate, dan professional hire dari berbagai latar belakang, membuat gejala itu lebih terasa.

Yang paling sering mengalami gegar budaya adalah mereka yang tidak punya latar belakang sawit.

“Mereka tidak tahu apa itu berondolan, piringan, kernel. Ketemu kebun ratusan hektare, langsung bingung,” katanya.

Di sisi lain, mereka yang bekerja sesuai latar belakang, IT, hukum, agronomi, cenderung lebih cepat menyesuaikan diri.

Satu Kaca Kunci Hadapi Gegar Budaya

Saat ditanya bagaimana cara bertahan dari gegar budaya, Jonnie tidak memberi teori rumit. Ia merangkum semuanya dalam satu kata: “Sosialisasi.”

Menurutnya, banyak kegagalan adaptasi berawal dari sikap menutup diri. Ia sendiri punya kebiasaan kecil untuk mencairkan suasana.

“Saya kalau ketemu orang selalu menyapa. Supaya orang merasa diterima,” katanya.

Selain bersosialisasi, ia menyampaikan beberapa prinsip penting:

  • Jangan membandingkan diri dengan orang lain.
  • Terima bahwa lingkungan baru selalu berbeda.
  • Fokus pada keterampilan, bukan ekspektasi.
  • Jujur pada diri sendiri tentang batas kemampuan.

“Adaptasi, bagaimanapun, memerlukan kerendahan hati,” tutur Pak Jonnie.

Mendengar penuturan Pak Jonnie, mudah memahami bahwa gegar budaya di Agrinas Palma Nusantara bukan merupakan ketidaknyamanan, melainkan refleksi perjalanan manusia menghadapi perubahan.

Di ujung wawancara, Pak Jonnie menegaskan bahwa setiap orang punya ritme masing-masing.

“Ada yang dua hari menyerah. Ada yang dua bulan dan banyak juga yang tetap bertahan sejak APN berdiri, hingga hari ini..,” katanya.

“Pada akhirnya, culture shock itu bukan soal Agrinas Palma Nusantara. Itu soal bagaimana seseorang menghadapi hidup yang berubah.”

Agrinas Palma Nusantara adalah sebuah korporasi yang dibentuk oleh Negara untuk melaksanakan amanah titipan usaha perkebunan sawit di Nusantara tercinta. ***

Divisi Komunikasi dan Hubungan Kelembagaan
Chief Editor: Renaldi Zein, MSi, General Manager
Penulis: Natalia Santi, Manager Komunikasi Eksternal
Fotografer: Dede Kurniawan, Manager Komunikasi Internal