
Jakarta, 27 April 2026 — Matahari belum tinggi saat di lantai 6 Menara Agrinas Palma, Jakarta Selatan. Suasana hangat dan akrab terasa kental, Senin pagi (27/4). Percakapan tentang masa depan Indonesia berlangsung dengan nada yang tidak biasa. Bukan sekadar diskusi teknis, melainkan refleksi bersama tentang nasib jutaan petani yang selama ini berdiri di balik industri strategis negeri ini.
Forum Diskusi Terbatas (FDT) di kantor pusat PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) menghadirkan satu kesadaran bersama: bahwa sawit bukan hanya komoditas, melainkan ruang hidup, harapan, dan martabat jutaan keluarga Indonesia.
Bertajuk “Penguatan Petani Melalui Percepatan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) sebagai Langkah Awal Menuju Era Industri”, forum tersebut menjadi langkah strategis guna mempercepat transformasi sektor sawit rakyat melalui kolaborasi lintas pemangku kepentingan.

Berbagai pemangku kepentingan hadir. Mulai dari pemerintah, regulator, lembaga pendanaan, hingga pelaku industri dan asosiasi. Antara lain, Togu Rudianto Saragih SH MH Ketua Sekretariat Tim PSR Ditjenbun, Kementerian Pertanian, Direktur Pengukuran dan Pemetaan Dasar dan Pertanahan dan Ruang, Farid Hidayat, Plh Direktur Penghimpunan Dana, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit, Ahmad Munir, Dr. Suprapto, S.Hut., M.T. sebagai Kepala Sub Direktorat Pengukuhan Kawasan Hutan Wilayah I pada Direktorat Pengukuhan Kawasan Hutan Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan Kementerian Kehutanan.
Ketua Umum Rumah Sawit Indonesia, Kacuk Sumarto menyebut pertemuan penuh persahabatan tersebut sebagai forum pertama, dan belum pernah ada. Empat institusi BPDP, Perkebunan, Badan Pertanahan dan Kehutanan bertemu dalam satu forum. “Ini rekor,…, sebelumnya belum pernah ada,” kata Kacuk dalam pesannya.
Diskusi dimoderatori Dr. Ir. Tungkot Sipayung, Founder dan Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute.

Tampil sebagai penanggap, Gus Daldari Harahap, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Sumatera Utara, Prof. Dr. Budi Mulyanto MSc. dari IPB University, Deputy Secretary General of the Council of Palm Oil Producing Countries Prof. Dr. Ir. Musdhalifah Machmud, MT, C, Dr. Sadino, konsultan hukum, Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat Setyono, Ir. Sahat M. Sinaga, Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia, dan Badan Kerjasama Perusahaan Perkebunan Sumatera Dr. Hasril Hasan Siregar.
Hadir pula jajaran Direksi Agrinas Palma Nusantara, Direktur Utama Muhammad Abdul Ghani, Direktur Kemitraan dan Plasma Seger Budiardjo, Direktur Kepatuhan dan Keberlanjutand Nofil Anoverta, Direktur Operasional Tuhu Bangun, Direktur Bisnis Nurhidayat, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Sucipto Prayitno, Direktur Pemasaran M. Wais Fansuri, dan Direktur Konsultan Konstruksi Gagah Guntur Aribowo.
PSR Kunci Tingkatkan Produktivitas Petani
Pendiri Rumah Sawit Indonesia, Sabri Basyah, menegaskan bahwa industri sawit nasional memiliki peran strategis dengan luas mencapai sekitar 16 juta hektare, di mana lebih dari 40 persen dikelola oleh petani rakyat. Namun, produktivitas petani masih relatif rendah, yakni sekitar 2–3 ton CPO per hektare.

“Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani. Namun, implementasinya masih menghadapi berbagai tantangan struktural,” ujar Sabri pada pembukaan Forum Diskusi Terbatas.
Ia menambahkan bahwa berbagai hambatan seperti legalitas lahan, kelembagaan petani, hingga kompleksitas birokrasi menjadi bottleneck yang perlu segera diselesaikan secara sistemik.
Direktur Kemitraan dan Plasma PT Agrinas Palma Nusantara (Persero), Seger Budiardjo, menegaskan pentingnya menjadikan rakyat sebagai aktor utama dalam pengelolaan sumber daya kelapa sawit. Sawit merupakan komoditas strategis yang tidak hanya menopang devisa negara, tetapi juga membuka ruang kesejahteraan luas bagi masyarakat.

Seger Budiardo pun menegaskan bahwa salah satu fokus utama Agrinas Palma Nusantara adalah percepatan program peremajaan sawit rakyat (PSR). Dirut Agrinas Palma Nusantara pun menyatakan bahwa investasi di sektor ini memiliki dampak luas terhadap penyerapan tenaga kerja dan distribusi ekonomi.
Salah satu terobosan penting yang diusung Agrinas Palma Nusantara adalah model kemitraan inklusif dengan petani.
Ke depan, Agrinas Palma Nusantara ingin memastikan bahwa petani mendapatkan perlakuan setara, termasuk dalam hal rendemen dan akses terhadap pembiayaan, pupuk, serta teknologi.
“Pertemuan ini menjadi landasan bagi kami untuk bergerak,” ujar Seger Budiardjo, seraya berharap program peremajaan sawit rakyat dapat segera dimulai dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Dorong Pendekatan Terintegrasi
Dalam forum tersebut, PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) menegaskan komitmennya untuk mempercepat implementasi PSR melalui pendekatan terintegrasi berbasis kemitraan.
Salah satu strategi yang diusung adalah konsep single management berbasis koperasi, yang memungkinkan pengelolaan kebun dilakukan secara lebih terkoordinasi tanpa mengurangi peran petani sebagai pemilik lahan.
“Kami ingin memastikan keberlanjutan kebun rakyat melalui sistem pengelolaan yang lebih terstruktur, transparan, dan berkelanjutan,” ujar Direktur Kemitraan dan Plasma PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) Seger Budiardjo.
Pendekatan ini mencakup penguatan kelembagaan petani, pendampingan teknis, serta integrasi dari hulu hingga hilir, termasuk pengolahan hasil.

Percepatan Legalitas dan Kemitraan
Forum juga menyoroti pentingnya percepatan legalitas lahan sebagai prasyarat utama keberhasilan PSR. Tanpa kepastian hukum, akses terhadap pembiayaan dan program pemerintah akan terus terhambat.
Selain itu, penguatan kemitraan antara perusahaan, koperasi, dan petani menjadi kunci untuk menciptakan ekosistem yang berkelanjutan.
Sebagai bagian dari langkah konkret, dalam forum ini dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang mencakup analisis kelayakan proyek PSR, manajemen proyek secara end-to-end, pendampingan petani menuju industrialisasi, serta dukungan kajian kebijakan.

Kolaborasi untuk Transformasi
Pada akhirnya, forum menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam menjawab tantangan industri sawit rakyat. Harapannya, pemerintah, BUMN, swasta, dan petani bergerak bersama dalam satu visi untuk meningkatkan produktivitas, daya saing, dan kesejahteraan petani.
Di penghujung acara PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Rumah Sawit Indonesia (RSI) dalam rangka membangun kemitraan strategis untuk memperkuat industri kelapa sawit nasional berbasis petani melalui pendekatan korporatisasi kelembagaan petani.
Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara, Dr. Mohammad Abdul Ghani, dan Sekretaris Jenderal Rumah Sawit Indonesia, Yunita Sidauruk.

Melalui forum ini, Agrinas Palma Nusantara berharap rekomendasi strategis yang dihasilkan akan implementatif dan menjadi dasar percepatan PSR secara nasional. *










