

Jakarta, 24 Desember 2025 - Suatu pagi di Kabupaten Bogor, awal Desember lalu, tepatnya pada tanggal 9, deru alat berat memecah sunyi Bendungan Cibeet. Di titik operasional yang menjadi jantung proyek strategis itu, rombongan kecil dari Direktorat Konsultan Konstruksi (DKK) PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) tiba dengan satu agenda penting: memastikan standar internasional benar-benar hidup di lapangan.
Rombongan itu dipimpin para manajer lintas fungsi, mulai dari General Manager (GM) Operasi dan Sumber Daya (OSD) DKK Adrian Yulianto, GM Engineering Agung Y. Safii, bersama jajaran manajer operasional dan pendukung.
Dengan pendampingan dari DIvisi Sistem Manajemen, Sertifikasi dan Keberlanjutan dibawah pimpinan Bapak Stephanus Dadang Sancoyo, S.T. sebagai Divisi yang membawahi kegiatan Surveillance Sertifikasi Industri Perusahaan.

Jajaran manager yang hadir antara lain, Gita Ayu K. (Manager Administrasi Operasional), Amir M.H. (Manager SDA), Hendy Kusuma R. (Manager Layanan Energi), Retno S. (Manager P3), Kartika Eka P. (Manager Administrasi Umum), Hendy K. Rajasa (Manager Operasional Layanan Energi), dan Dani Rosanti (Manager Layanan Pendukung). Hadir pula Yulistiawaty ( Manager Sertifikasi Industri Hulu ) dan Anindya Estiandari ( Manajer Sistem Manajemen)
Mereka datang bukan hanya untuk melihat, tetapi menguji secara langsung bagaimana Tri-Standar Mutu, Lingkungan, dan K3 diterapkan di medan konstruksi yang keras dan dinamis.
Hari Pertama: Menyisir Debu, Deru, dan Disiplin Keselamatan
Di tengah terik matahari, tim auditor bergerak dari satu sudut ke sudut lain proyek. Fokus hari pertama bukan tentang dokumen, tetapi tentang perilaku, kedisiplinan, dan realitas di lapangan.
Audit membuka tiga lensa pemeriksaan:
- Keselamatan Kerja.
APD menjadi perhatian awal. Dari helm, sabuk keselamatan, hingga pengecekan scaffolding dan manajemen alat berat - setiap detail menjadi indikator budaya K3. Prosedur Job Safety Analysis (JSA) dicek satu per satu untuk memastikan tak sekadar dibacakan, tetapi dipahami petugasnya. - Pengelolaan Lingkungan.
Debu, limbah B3, non-B3, hingga kebisingan dipantau saksama. Auditor menanyakan bagaimana konservasi air dilakukan, bagaimana limbah ditangani, dan bagaimana area konstruksi tetap terkendali. - Dokumentasi Lapangan.
Catatan inspeksi, work permit, hingga dokumentasi toolbox meeting ditelusuri. Semua dicek apakah tercatat, dikelola real-time, dan mudah ditelusuri.
“Hari pertama adalah validasi bahwa standar SMLK3 kami tidak hanya indah di atas kertas, tetapi benar-benar bernapas bersama operasional,” ujar GM OSD DKK, Adrian Yulianto, sambil menyeka keringat di tengah bisingnya mesin.
Audit hari pertama menjadi pengingat bahwa keselamatan dan lingkungan tidak pernah berhenti pada slogan.
Hari Kedua: Menyelami Arsip, Sistem, dan Ketahanan Organisasi
Setelah memeriksa lapangan, auditor beralih ke ruang rapat dan dokumen-dokumen pengendalian manajemen. Jika hari pertama adalah soal tindakan, hari kedua adalah soal arsitektur sistem.
Pada tahap ini, tim menguliti bagaimana kebijakan disusun, bagaimana risiko dipetakan, serta seberapa siap organisasi mencegah kegagalan.
Ruang audit dipenuhi rekaman pelatihan, matriks kompetensi, prosedur darurat, dan alur komunikasi kerja. Auditor memastikan:
- Kebijakan dan sasaran SMLK3 konsisten dengan arah strategis perusahaan
- Pelatihan dan kompetensi karyawan relevan dengan risiko pekerjaannya
- Dokumen, rekaman, dan instruksi kerja dikelola sesuai standar ISO
- Tim memiliki kesiapsiagaan yang memadai menghadapi situasi darurat
Audit sistem ini menjadi tulang punggung yang memperjelas bahwa keselamatan bukan inisiatif sporadis, melainkan bagian dari desain operasional.
Hari Ketiga: Menyatukan Temuan, Menyempurnakan Langkah
Puncak rangkaian aktivitas tiga hari ini berlangsung dalam ruang pleno. Tim auditor memaparkan temuan mereka di hadapan jajaran manajemen.
Hasilnya tak menunjukkan adanya penyimpangan serius. Namun, tim memberi catatan berupa:
- 12 Observasi - peluang perbaikan untuk mendorong organisasi naik kelas menuju operational excellence.
- 3 Temuan Minor - penyimpangan kecil yang memerlukan Corrective Action Plan (RAC) dalam tenggat waktu tertentu.
“Penutupan audit ini bukan akhir, melainkan titik tolak menuju kesempurnaan berkelanjutan. Dengan komitmen pada observasi dan temuan ini, kita tidak hanya memenuhi standar, tetapi mendefinisikan ulang bagaimana standar itu diterapkan di industri konstruksi,” ujar Firman Pudjiaryanto, Lead Auditor LS CCMs.

Buka Babak Baru
Sesi foto bersama di akhir kegiatan menjadi simbol persatuan seluruh pihak: auditor, manajemen, staf sistem manajemen, hingga pendamping dari Divisi Sistem Manajemen, Sertifikasi & Keberlanjutan (DSSK). Wajah-wajah lelah itu menyimpan kebanggaan, bahwa komitmen pada keselamatan, mutu, dan lingkungan telah diuji dan terbukti.
Surveillance SMLK3 memang telah selesai. Namun semangat yang dibawanya justru baru dimulai, semangat untuk bekerja lebih aman, lebih bersih, lebih bertanggung jawab.
Direktorat Konsultan Konstruksi melangkah dari Cibeet dengan tekad baru: menjadikan K3L bukan sekadar kewajiban, tetapi keunggulan kompetitif yang akan membedakan mereka di industri konstruksi nasional.*
Foto dan Peliputan: Direktorat Konsultan Konstruksi dan Divisi Sistem Manajemen, Sertifikasi dan Keberlanjutan, Direktorat Riset, Pengembangan dan Keberlanjutan PT Agrinas Palma Nusantara (Persero)
