Agrinas Palma Nusantara Perkuat Strategi Intercropping untuk Swasembada Pangan

Focus Group Discussion (FGD) bertema “Pengembangan Perkebunan Jagung dan Kedelai melalui Sistem Intercropping pada Perkebunan Kelapa Sawit untuk Mewujudkan Swasembada Pangan Nasional” yang digelar di Menara Agrinas Palma, Jakarta Selatan, Kamis (21/5/2026).

Jakarta – PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) terus memperkuat komitmennya mendukung program swasembada pangan nasional melalui pengembangan perkebunan jagung dan kedelai dengan sistem intercropping atau yang kerap dikenal sebagai pola tumpang sari di lahan perkebunan kelapa sawit. Langkah strategis tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Pengembangan Perkebunan Jagung dan Kedelai melalui Sistem Intercropping pada Perkebunan Kelapa Sawit untuk Mewujudkan Swasembada Pangan Nasional” yang digelar di Menara Agrinas Palma, Jakarta Selatan, Kamis (21/5/2026).

Kegiatan terlaksana sebagai tindak lanjut dari Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2026 tentang Percepatan Swasembada Pangan Bidang Pertanian dalam Mewujudkan Ketahanan Nasional dan Kemandirian Bangsa yang ditandatangani Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto pada 25 Maret 2026.

Direktur Bisnis PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) Nurhidayat mengharapkan melalui forum ini, pembahasan mengenai pengembangan jagung dan kedelai melalui pola intercropping atau tumpang sari di perkebunan sawit dapat menjadi solusi dalam mengoptimalisasi lahan sekaligus upaya memperkuat kesejahteraan petani rakyat melalui pola kemitraan berbasis koperasi.

Direktur Bisnis PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) Nurhidayat dalam FGD Ketahanan Pangan di Menara Agrinas Palma, Kamis (21/5)

Sistem intercropping yang memungkinkan penanaman jagung dan kedelai dilakukan di sela tanaman kelapa sawit, khususnya pada tanaman belum menghasilkan (TBM) maupun area dengan kerapatan kanopi rendah diharapkan mampu meningkatkan produktivitas lahan secara efisien dan berkelanjutan tanpa mengganggu tanaman utama kelapa sawit.

“Penugasan kita mencapai 400 ribu hektare kedelai, 250 ribu hektare jagung, dan 300 ribu hektare singkong. Ini angka yang sangat luar biasa dan mungkin belum pernah ada sebelumnya di Indonesia untuk pengembangan tanaman pangan dalam skala korporasi,” kata Nurhidayat dalam sambutannya.

Hadir sejumlah pejabat kementerian, lembaga, akademisi, dan peneliti nasional. Hadir dalam kegiatan itu Asisten Deputi Organisasi dan Badan Hukum Kementerian Koperasi Try Aditya Putra, Penata Kelola Perusahaan Negara Direktorat Fasilitasi Sinergi Pembangunan (FSP) Bidang Ketahanan Pangan BP BUMN Ellina Puspita Sari, Ketua Kelompok Substansi Jagung dan Aneka Serealia Direktorat Serealia Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Devied Apriyanti Sofyan, S.P., M.Si., serta Tim Kemenko Pangan.

Dari kalangan akademisi dan peneliti, hadir Guru Besar IPB Prof. Munif Ghulam Ahdi, Senior Executive Vice President (SEVP) Riset, Inovasi dan Sustainability PT Riset Perkebunan Nusantara Dr. Tjahjono Herawan, M.Sc., serta Senior Executive Vice President (SEVP) Komersial PT Riset Perkebunan Nusantara Dr. Ir. Misnawi.

Kegiatan FGD dipandu oleh Muhammad Akmal Agustira, S.P., M.Sc., Kepala Divisi Inovasi dan Sustainability PPKS PT Riset Perkebunan Nusantara selaku moderator. Adapun Ratnawati Nurkhoiry, M.Sc., Kepala Tata Usaha Riset, Inovasi dan Sustainability PPKS PT Riset Perkebunan Nusantara hadir sebagai narasumber. Hadir pula Manajer QC Produk PPKS PT Riset Perkebunan Nusantara Eka Listia, M.Sc.

Sejumlah direksi, General Manager, Manager dan karyawan PT Agrinas Palma Nusantara (Persero). Antara lain Direktur Pemasaran M. Wais Fansuri, Direktur Konsultan Konstruksi Gagah Aribowo, Direktur SDM dan Umum, Memed Kosasih Setiaputra, Direktur Operasional Tuhu Bangun, Direktur Kemitraan dan Plasma Seger Budiardjo, serta GM Riset Hilir dan Tanaman Wahyu Saptonohadi.

Dalam paparannya, Prof. Munif Ghulam Ahdi menegaskan bahwa sistem tumpang sari jagung dan kedelai di lahan sawit memiliki peluang besar untuk mendukung percepatan swasembada pangan nasional.

“Kalau ada satu juta hektare saja yang bisa dimanfaatkan, rasanya kita sudah sangat aman untuk mendukung produksi pangan nasional,” ujar Prof. Munif saat menjelaskan pengembangan teknologi budidaya jenuh air pada lahan basah.

Sementara itu, Devied Apriyanti Sofyan, S.P., M.Si. dari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian menilai pengembangan intercropping di perkebunan sawit menjadi peluang strategis untuk mengurangi ketergantungan impor kedelai nasional.

“Kebutuhan kedelai nasional mencapai 2,6 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri masih sangat rendah. Karena itu, pengembangan kedelai di lahan sawit menjadi peluang besar untuk substitusi impor,” ujarnya.

Dari sisi implementasi lapangan, PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) melalui Kepala Divisi Tanaman, Syaiful Panjaitan mengungkapkan bahwa perusahaan tengah menyiapkan model integrasi perkebunan sawit dan tanaman pangan secara berkelanjutan.

“Kalau kita ingin menumpangsarikan kelapa sawit dengan tanaman pangan seperti jagung dan kedelai, semuanya relatif sinergis. Tantangannya adalah bagaimana menyiapkan sistem budidaya, mekanisasi, dan rekomendasi pemupukan yang tepat,” katanya.

Dalam sesi diskusi, salah satu pertanyaan yang paling mendapat perhatian peserta adalah mengenai kesiapan benih dan teknologi mekanisasi untuk mendukung pengembangan tumpang sari dalam skala ratusan ribu hektare.

Menanggapi hal itu, Prof. Munif Ghulam Ahdi mengingatkan pentingnya kesiapan teknologi sebelum melakukan ekspansi besar-besaran.

“Kalau teknologi belum siap dan mekanisasi belum tersedia, jangan main-main mengerjakan skala besar. Hasilnya bagus pun bisa menjadi masalah ketika panen dan pascapanennya tidak siap,” ujarnya.

FGD menghadirkan lima pembahasan utama. Pertama, membahas penguatan kelembagaan petani dan koperasi. Kedua, mengangkat implementasi intercropping atau tumpang sari tanaman jagung dan kedelai pada perkebunan kelapa sawit. Ketiga, membahas kesesuaian teknis dan rekomendasi berbasis riset untuk implementasi intercropping atau tumpang sari.

Selanjutnya atau yang keempat memaparkan strategi pengembangan sistem intercropping pada lahan Agrinas Palma Nusantara, termasuk pemetaan potensi lahan dan model kemitraan dengan petani rakyat berbasis koperasi. Dan yang terakhir, atau kelima membahas strategi implementasi intercropping pada lahan basah dan kering guna meningkatkan produktivitas perkebunan sawit. Setelah seluruh paparan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab interaktif bersama peserta.

Dalam diskusi, forum menilai sistem intercropping atau tumpang sari menjadi solusi strategis untuk meningkatkan produktivitas lahan sawit secara optimal tanpa mengganggu produktivitas tanaman utama. Pendekatan ini juga diharapkan mampu meningkatkan produksi komoditas pangan strategis nasional seperti jagung dan kedelai secara berkelanjutan.

Melalui forum ini, Agrinas Palma Nusantara menegaskan perannya sebagai BUMN yang tidak hanya fokus pada pengelolaan perkebunan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam mendukung agenda ketahanan dan kemandirian pangan nasional melalui inovasi dan sinergi lintas sektor. *