
Kutai Kertanegara, 11 November 2025 – Matahari belum tinggi ketika tim PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) tiba di sebuah desa di pedalaman Kalimantan Timur. Tepatnya di Desa Klekat, Kecamatan Kembang Janggut, Kabupaten Kutai Kertanegara (4/11) pekan lalu.
Jalan tanah yang membelah hamparan kebun sawit itu menjadi saksi bisu betapa peliknya persoalan lahan yang kini tengah ditangani negara.
Sejak ditetapkannya kebijakan penertiban kawasan hutan (PKH), Agrinas Palma Nusantara diberi mandat untuk mengelola lahan sawit hasil penertiban. Namun tugas itu bukan sekadar pekerjaan teknis. Ia datang dengan beban sosial, emosional, bahkan historis yang melekat kuat pada komunitas setempat.
Di sinilah Komunikasi Sosial, atau akrab disebut Komsos, memegang peranan penting.
Ketika Lahan Bukan Sekadar Komoditas
Firdaus Komarno, General Manager Regional Kalimantan Timur, masih ingat jelas pertemuan pertamanya dengan seorang warga yang sudah menggarap lahan sawit lebih dari 20 tahun. Wajah warga itu menegang, suaranya bergetar. Ia merasa bukan hanya kebunnya yang hendak diambil, tetapi juga marwah, jerih payah, dan sejarah keluarganya.
“Secara psikologis, mereka marah, kecewa, dan bahkan ada masyarakat yang berucap, ‘tidak akan saya serahkan kebun saya’,” tutur Firdaus.
Kalimat itu bukan sekadar penolakan; ia adalah ekspresi kehilangan, atau ketakutan akan kehilangan. Tak sedikit warga yang merasa telah merawat tanah itu dari nol, bahkan meyakini lahan tersebut sebagai warisan leluhur.
Situasi serupa juga terjadi di Desa Puan Cepak, Kecamatan Muara Kamam Kab Kutai Kartanegara, dan mungkin juga di beberapa wilayah lain, yang kebun sawitnya dialihkelolakan ke PT Agrinas Palma Nusantara (Persero).
Di sisi lain, negara memiliki mandat untuk menata kembali kawasan yang diklaim sebagai bagian dari hutan negara. Dua kepentingan ini kerap berhadap-hadapan di lapangan.
Jalan Tengah: Humanis tanpa Kehilangan Ketegasan
Alih-alih menempuh jalur konfrontatif, tim Agrinas Palma Nusantara memilih jalan komunikasi. Bagi Firdaus dan jajarannya, Komsos bukan sekadar penyampaian pesan, tetapi seni memahami, mendengarkan, dan membangun kepercayaan.
“Dengan pendekatan itu, masyarakat dengan lahan lebih luas dibanding perusahaan akhirnya dapat memahami dan menerima kebijakan pemerintah terkait penertiban kawasan hutan,” kata Firdaus.
Menurutnya, kuncinya adalah hadir dengan empati, tanpa mengabaikan ketegasan hukum. Komunikasi tidak boleh berhenti pada penjelasan regulasi, tetapi harus merangkul sisi manusia di balik persoalan.

Ruang Dialog yang Menghadirkan Solusi
Pendekatan Komsos di lapangan tidak dilakukan sepihak. Firdaus menyadari bahwa suara perusahaan saja tidak cukup. Ia butuh jembatan budaya dan kepercayaan.
Karena itu, Agrinas Palma Nusantara melibatkan berbagai pemangku kepentingan lokal: Ketua Adat Dayak, tokoh masyarakat, kelompok tani, pemerintah desa, hingga perwakilan masyarakat yang telah lama berada di kawasan tersebut.
Melalui pertemuan tatap muka, duduk bersila di balai desa, atau berdiskusi sambil menyeruput kopi di teras rumah warga, percakapan pun mengalir lebih hangat dan jujur. Dari ruang-ruang dialog itulah keraguan perlahan mencair, resistensi mereda, dan titik temu mulai muncul.
“Itu yang kami kejar,” ujar Firdaus, “penyelesaian tanpa gesekan, dengan hasil yang efektif dan berkelanjutan.”

Menuju Pengelolaan yang Lebih Beradab
Langkah komunikasi yang menempatkan manusia sebagai inti pendekatan kini menjadi model penanganan lahan sawit PKH di Kalimantan Timur. Agrinas Palma Nusantara ingin memastikan bahwa proses penertiban tidak meninggalkan luka sosial, tetapi justru membuka jalan menuju pengelolaan lahan yang tertib, adil, dan bermartabat.
Sebab, urusan lahan di Kalimantan bukan sekadar angka hektare atau produksi tandan buah segar. Ia menyangkut identitas, ruang hidup, masa depan keluarga, dan hubungan manusia dengan tanah yang menghidupinya.
Dan di tengah kompleksitas itu, Komsos hadir bukan sebagai strategi komunikasi belaka, tetapi sebagai jembatan, antara negara dan rakyat, antara kebijakan dan kemanusiaan.*
Chief Editor: Renaldi Zein, MSi, General Manager
Editor: Dede Kurniawan, Manajer Subdivisi Komunikasi Internal. Natalia Santi, Manajer Subdivisi Eksternal
Kontributor: Firdaus Komarno, General Manager Regional Kalimantan Timur










